HOME
jun-slider < class="sp-layer sp-black sp-padding" data-position="topCenter" data-horizontal="0" data-vertical="50" data-show-transition="right" data-show-delay="500">

jun-slider < class="sp-layer sp-black sp-padding" data-position="topCenter" data-horizontal="0" data-vertical="50" data-show-transition="right" data-show-delay="500">

jun-slider < class="sp-layer sp-black sp-padding" data-position="topCenter" data-horizontal="0" data-vertical="50" data-show-transition="right" data-show-delay="500">

jun-slider < class="sp-layer sp-black sp-padding" data-position="topCenter" data-horizontal="0" data-vertical="50" data-show-transition="right" data-show-delay="500">

jun-slider < class="sp-layer sp-black sp-padding" data-position="topCenter" data-horizontal="0" data-vertical="50" data-show-transition="right" data-show-delay="500">

jun-slider < class="sp-layer sp-black sp-padding" data-position="topCenter" data-horizontal="0" data-vertical="50" data-show-transition="right" data-show-delay="500">

Departemen Anak & Keadilan

Departemen Ekonomi & Keadilan

Departemen Iklim & Keadilan

Wawancara

Pemberian bantuan pembangunan rumah warga korban gempa selayaknya memerhatikan aspirasi warga atau dengan kata lain partisipatif. Meskipun posisi warga sebagai penerima bantuan, seharusnya diperlakukan sebagai subyek agar manfaat bantuan benar-benar dirasakan.

"Untuk itu, kami mendorong Pemerintah Kabupaten Klaten agar pembangunan kembali Klaten dilakukan dengan cara menata ulang tata ruangnya secara partisipatif," kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah Arief Zayyn seusai peresmian bantuan rumah darurat kepada korban gempa di Gesikan, Gantiwarno, Rabu (30/8).

Walhi bersama Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial (LKTS) Boyolali membangun 100 unit, sebanyak 80 unit di Gesikan, Gantiwarno, sisanya di Sumber, Trucuk. Pembangunan rumah yang selesai dalam waktu satu bulan ini dikatakan Arief Zayyn, dilakukan secara partisipatif. Dalam batas-batas tertentu disesuaikan dengan anggaran, warga diajak mendiskusikan tentang rumah yang akan dibangun.

"Ada beberapa warga yang bahan bangunan sisa reruntuhan rumahnya masih bisa digunakan. Pembangunan rumahnya lalu didiskusikan ingin seperti apa disesuaikan dengan bahan yang ada. Yang jelas harus ada satu kamar untuk orang tua," ujarnya.

Rumah dibangun berukuran 4 meter x 6 meter dengan dinding seluruhnya terbuat dari gedek bambu dan bergenteng tanah. Semula warga yang masih trauma meminta genteng dipilihkan dari bahan ijuk.

Namun, setelah diberi pemahaman, warga bersedia menggunakan genteng tanah. Biaya pembangunan tiap rumah yang berkisar Rp 700.000- Rp 2,7 juta, menurut Arief, kuat digunakan hingga satu tahun ke depan.

Salah satu warga, Sarjuni, mengatakan, ia dan keluarganya tidak pernah bermimpi mendapat bantuan rumah. Suaminya, Sugiman, malah pernah menolak tawaran bantuan karena merasa banyak warga lain yang lebih sengsara. "Kondisi kami lebih baik, masih punya sisa genteng untuk dipakai membuat gubuk kecil. Banyak warga lain yang rumahnya hancur sama sekali," ujar Sugiman.

Lurah Gesikan Totok Hardianto sangat senang dengan bantuan yang diterima warganya. Meskipun jumlah rumah yang roboh dan rusak parah masih sangat banyak, hal itu setidaknya mengurangi beban warganya yang tidak kunjung mendapat realisasi janji pemerintah untuk membuatkan rumah bagi korban gempa. Di wilayahnya yang dihuni 728 keluarga, total ada 633 rumah roboh dan 66 rusak parah. (eki)

Sumber : Kompas

Facebook FanBox

LKTS Map

Random Videos

Thank you very much for your support and cooperation.

Kontak Kami :

Jl. Prof. dr. Soeharso No. 31 Karanggeneng

Boyolali 57316 Jawa Tengah - Indonesia

Phone/Fax : +62-0276-327947

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. 

Web : www.lkts.org 

Find Us :

joomla social share plugin